Opinion

Imigran Digital dan Hoax Politik

Imigran Digital dan Hoax Politik February 26, 2018
Imigran Digital dan Hoax Politik

Money Politic menjadi salah satu cara kotor paling seksi yang sering dilakukan para politisi maupun partai yang miskin gagasan serta ide untuk menjaring pemilih. Tapi kini di era yang serba digital serta kemudahan dan kecepatan mendapatkan informasi, menyebarkan berita bohong atau hoax menjadi cara yang cukup diperhitungkan untuk menjatuhkan lawan politik. Bahkan penyebaran hoax secara digital, menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Terbukti beberapa waktu lalu, negeri ini digemparkan dengan terungkapnya Saracen sebagai sindikat penyebar hoax dan ujaran kebencian di dunia internet. Saracen memiliki hingga 800 ribu akun media sosial untuk menjalankan bisnisnya dalam menyebarkan hoax dan konten yang berisikan ujaran kebencian. Demi menjatuhkan lawan politik, konon Saracen menawarkan jasanya tersebut dengan tarif hingga mencapai puluhan juta rupiah kepada klien-kliennya.

Namun, terungkapnya sindikat Saracen ini ternyata tidak akan menghentikan praktek penyebaran hoax dan ujaran kebencian di dunia maya. Menurut pengamat politik, Arbi Sanit, dalam wawancara di sebuah media nasional mengatakan, sindikat penyebar hoax diprediksi akan bermunculan jelang Pilkada tahun ini dan Pemilu serta Pilpres di tahun depan. Arbi menyatakan, sindikat tersebut menjadi alat politik bagi pihak-pihak yang ingin menjatuhkan lawan politiknya.

via GIPHY

Digital Natives, Digital Immigrants

Lalu mengapa penyebaran hoax dan ujaran kebencian ini sangat cepat seperti virus? Menurut pengamat komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan dalam sebuah wawancara mengungkapkan, penyebaran hoax dan ujaran kebencian ini menyasar para Digital Imigrants. Imigran digital ini merupakan kelompok masyarakat yang lahir sebelum kemunculan era teknologi digital yang seperti sekarang, atau bisa dikatakan tidak terbiasa menggunakan medium digital. Berbeda dengan generasi Digital Natives yang lahir dimana teknologi sudah berada di lingkungannya (dimulai tahun 1990), atau justru teknologi menjadi sarana komunikasi yang utama.

Ketika info hoax serta ujaran kebencian tersebut sampai di tangan para imigran digital, lalu disebarkan kepada generasi di bawah mereka maka akan cepat penyebarannya. Hal ini dikarenakan, perkataan para imigran digital dianggap sebagai panutan sehingga dapat menggiring opini publik. Ditambah lagi para imigran digital ini secara usia dapat dikatakan senior dan memiliki pendidikan yang tinggi, oleh karenanya penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut dapat tersebar cepat bak virus.

Tak heran jika beberapa kasus penyebaran hoax dan ujaran kebencian banyak terungkap sosok-sosok yang menjadi panutan sebagai pelakunya. Sosok tersebut merupakan sasaran empuk dari politik kotor yang menggunakan hoax serta ujaran kebencian sebagai senjata menjatuhkan lawan, karena tidak memiliki ide serta gagasan yang dapat menjaring pemilih dalam sebuah pertarungan politik.

Dalam menangkal isu hoax dan kebencian ini tak cukup hanya peran pihak berwenang semata, harus ada tindakan nyata dari tiap individu untuk bijak dalam memahami dan beretika dengan tidak menyebarkan sesuatu yang belum diyakini kebenarannya.

Serta masih perlu adanya pendidikan digital yang tidak hanya menyasar level yang berpendidikan rendah semata, namun juga harus menyentuh kalangan imigran digital. Karena nyatanya merekalah sasaran para sindikat atau aktor intelektual dibalik isu hoax dan ujaran kebencian, yang kerap kali menghiasi linimasa media sosial ataupun dunia maya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
31